Bek andalan Chelsea, Jess Carter, menegaskan komitmennya untuk tetap tampil membela tim nasional Inggris di ajang Euro 2025. Meskipun sempat menjadi korban serangan verbal dan pelecehan di media sosial. Carter membuktikan bahwa semangat juang dan kecintaan terhadap sepak bola lebih besar daripada rasa sakit akibat ujaran kebencian yang ia terima.
Semangat yang Tak Padam
Carter, yang menjadi salah satu bagian penting dari skuat Lionesses, menyampaikan bahwa dirinya tetap termotivasi untuk bermain di level tertinggi. Bagi Carter, mewakili negaranya adalah kehormatan yang tidak bisa diukur dengan apapun, bahkan dalam kondisi mental yang sempat terpukul.
“Saya tahu seperti apa rasanya menerima hal negatif dari luar lapangan,” ujarnya. “Namun, saya tidak akan membiarkan itu merampas mimpi saya.”
Serangan yang Mengusik Jess Carter
Setelah tampil di ajang besar sebelumnya, Carter menjadi sasaran komentar kasar yang menyudutkannya, bahkan hingga pada level yang dianggap sangat menjijikkan. Bentuk pelecehan tersebut mencerminkan sisi gelap media sosial yang kerap tidak terkendali. Namun alih-alih menyerah, Carter memilih untuk melawan balik dengan keberanian dan performa di lapangan.
Ia menyebut bahwa pengalaman buruk itu sempat memengaruhi kondisi emosionalnya, tetapi tidak membuatnya berpaling dari tanggung jawab sebagai atlet profesional.
Dukungan Jess Carter dari Rekan dan Tim

Di tengah badai komentar negatif, Carter mendapatkan sokongan besar dari para pemain Lionesses lainnya dan juga dari manajemen tim. Pelatih kepala Sarina Wiegman secara terbuka memuji ketangguhan Carter dan menyebutnya sebagai pemain yang terus berkembang dalam hal mentalitas dan kemampuan teknis.
Rekan-rekan setim juga menegaskan solidaritas mereka terhadap Carter, mengutuk segala bentuk pelecehan online, serta menyerukan tindakan yang lebih tegas terhadap pelaku ujaran kebencian.
Fokus Menatap Euro 2025
Kini, Carter menatap Euro 2025 dengan semangat baru. Ia bertekad menjadikan turnamen ini sebagai panggung pembuktian, bukan hanya soal kualitas bermain, tetapi juga kekuatan karakter.
“Bermain di Euro bukan hanya soal sepak bola, ini tentang menunjukkan siapa kita dan apa yang kita perjuangkan,” katanya.
Carter juga berharap kehadirannya di turnamen nanti bisa menjadi inspirasi bagi banyak perempuan muda, khususnya mereka yang pernah mengalami intimidasi atau keraguan diri.
Seruan untuk Perubahan
Lewat pengalamannya, Carter menyerukan kepada platform media sosial dan otoritas sepak bola untuk mengambil tindakan yang lebih nyata dalam melindungi para pemain dari pelecehan daring. Ia menekankan bahwa suara-suara negatif tak seharusnya mendapat ruang, terlebih jika sampai merusak kesejahteraan mental para atlet.
“Sudah waktunya untuk membuat ruang digital menjadi tempat yang lebih aman bagi siapa pun, tak hanya untuk atlet,” ujarnya tegas
